Homeless Media Dan Era AI, Beberapa Perhatian Menjadi Catatan - Warta Global Kalsel

Mobile Menu

Top Ads

Whatshop - Tema WhatsApp Toko Online Store Blogger Template

Berita Update Terbaru

logoblog

Homeless Media Dan Era AI, Beberapa Perhatian Menjadi Catatan

Wednesday, 2 September 2026


Surabaya, Warta Global Kalsel - Dunia media telah berpindah “rumah”. Dahulu, alur informasi bergerak dari website → redaksi → reporter → berita → pembaca. Kini, informasi dapat bergerak jauh lebih cepat melalui Instagram, TikTok, video warga, caption, algoritma, hingga jutaan penonton.

Mitra Tarigan selaku Redaktur di Tempo.Co, dalam paparan berjudul Homeless Media dan Era AI yang disampaikan pada Media Gathering Bank Kalsel di lantai 16 Hotel Platinum Tunjungan Raya Surabaya menyebutkan, inilah yang melahirkan fenomena homeless media, yaitu akun atau kanal informasi yang tidak selalu memiliki struktur media konvensional, tetapi mampu mengumpulkan banyak pengikut dan menjadi sumber informasi masyarakat.

Mitra menambahkan, keunggulannya antara lain biaya operasional rendah, penyebaran informasi cepat, jangkauan luas, fleksibilitas tinggi, serta peluang monetisasi melalui kerja sama dengan merek, sponsorship, dan affiliate.

"Homeless media juga dapat menjadi “mata dan telinga” wartawan. Mereka sering berada lebih dahulu di lokasi kejadian dan mengetahui isu yang sedang dibicarakan masyarakat," ungkap Mitra dalam paparannya.

Namun, Mitra mengingatkan, ada perbedaan penting: homeless media dapat berhenti pada konten, sedangkan wartawan harus melanjutkan dengan verifikasi, konteks, konfirmasi, dan pertanggungjawaban jurnalistik.

"Bagi jurnalis, persoalannya bukan lagi apakah harus menggunakan AI atau tidak, tetapi bagaimana menggunakan AI tanpa meninggalkan prinsip-prinsip jurnalistik," Mitra menambahkan.

Katanya, AI dapat membantu pekerjaan seperti : transkripsi audio dan video;
membuat ringkasan; menerjemahkan;
membuat draf awal; membuat judul;
mengekstraksi dan menganalisis data ;
membantu pekerjaan rutin.

Namun AI memiliki risiko, antara lain bias, halusinasi, kutipan palsu, deepfake, dan persoalan hak cipta.

"Karena itu, AI bukan pengganti wartawan, melainkan mitra kerja. Kendali manusia tetap menjadi kunci. Wartawan harus memverifikasi fakta, mengoreksi kesalahan, mempertimbangkan etika, memahami konteks, dan mengambil keputusan editorial," Mitra mengingatkan.

Apa yang Tidak Bisa Digantikan AI?
Ada pekerjaan jurnalistik yang tetap membutuhkan manusia, seperti :
investigasi mendalam ; wawancara dengan narasumber ; verifikasi informasi kompleks ; menentukan nilai berita;
menemukan sudut cerita yang unik;
membangun hubungan dengan sumber;
memahami nuansa sosial, budaya dan politik; mengambil keputusan etis.

Kekuatan terbesar wartawan daerah justru terletak pada pengetahuan lokal yang asli. Sesuatu yang sulit diciptakan hanya dengan teknologi.

"Karena itu, wartawan tidak perlu membuat berita “untuk AI”. Buatlah berita yang berguna bagi manusia, kaya konteks, jelas, orisinal, memiliki bukti dan sumber yang dapat dipercaya," Mitra menegaskan.

Setidaknya ada lima kemampuan yang semakin penting :
* Literasi AI
Memahami cara kerja AI, bias, kemampuan dan keterbatasannya.
* Kemampuan Verifikasi
Menguji informasi melalui berbagai sumber secara independen dan mendeteksi manipulasi atau deepfake.
* Literasi Data
Mampu membaca, memahami dan menjelaskan data kepada masyarakat dengan bahasa sederhana.
* Kemampuan Editorial
Memiliki kepekaan menentukan berita yang benar-benar bernilai, bukan sekadar mengikuti tren.
* Human-Centered Skills
Menulis dengan empati, melakukan wawancara mendalam, membangun kepercayaan narasumber dan menjaga etika jurnalistik.

AI membuat produksi konten semakin murah. Tetapi bukan berarti jurnalisme menjadi tidak bernilai.
Justru di era AI, hal-hal yang semakin berharga adalah : Informasi orisinal • Pengetahuan lokal • Akses • Verifikasi • Kepercayaan. Pada akhirnya, teknologi boleh semakin pintar. Tetapi kepercayaan masyarakat tetap harus diperjuangkan oleh manusia.

* MITRA TARIGAN
Sarjana Hukum UNDIP
Redaktur Di Tempo.Co
2nd Winner of Jurnalistik Kesehatan 2015, Health Ministry. Koran Tempo 'Menyehatkan DesaDesa Nusantara' published April 2015, Fellowship member of Tobacco Control, ‘FCTC untuk Kesehatan dan Ekonomi Indonesia’ (October-November 2015)
Fellowship member of ILO, ‘Hak Pekerja Rumah Tangga dan Pekerja Anak’ (January-March 2016), Fellowship of Health & Nutrition Journalist Academy (HNJA) 2018, Member UNFPA Asia-Pacific Media and Communications Workshop, 29th-30th October 2018, Bangkok Thailand
Awardee John Doherty ABC Journalism internship in ABC News Australia 8th-12th July 2019, Melbourne Australia Member of Digital ABC Training by Win-IFRA Maret – Mei 2022, Member of Indonesian Next Generation Journalist Network (IKJN) on Korea (2024), Trainer, AI for Journalism 2026 by British Embassy Jakarta and Alunjiva (2026).

KALI DIBACA