
Banjarmasin, Warta Global Kalsel -
Paribasa Banjar ini bukan saja bercerita tentang rezeki, tapi sekaligus konsep rumah menurut orang Banjar.
Rezeki pasti datangnya dari Allah, karenanya jangan khawatir.
Allah maha adil pada semua makhluknya, jangan takut tidak kebagian rezeki.

Walau hanya di rumah saja, sebab sudah tidak mampu atau tidak kuasa keluar rumah, rezeki pasti datang. Semua yang ada pada rumah, termasuk tongkat dan gelagar, bisa saja mendatangkan rezeki. Begitu makna paribasa razakinya datang di tungkat di galagar.
Tongkat dan gelagar mendatangkan rezeki, begitu kira-kira arti harfiahnya.
Rumah orang banjar yang berbentuk panggung, terdapat tongkat dan gelagar yang menopang dan saling terhubung. Menjadi pondasi, letaknya di bawah dari rumah. Kekuatan rumah, ditopang oleh tongkat dan gelagar.
Dipinjam sebagai ilustrasi, memberi gambaran, bahkan saat manusia penghuninya sudah tidak mampu mencari rezeki ke luar rumah, bisa saja rezeki tersebut datang sendiri, karena tongkat dan gelagar mengundangnya untuk datang, membawa kebaikan bagi pemilik rumah.
Bukankah ada banyak orang, yang karena usia sudah lanjut, atau karena keadaannya, tidak dapat lagi leluasa mencari nafkah ke luar rumah. Apakah kemudian tidak lagi mendapatkan rezeki? Tentu tidak.
Menggambarkan optimisme, bahwa rezeki bisa datang dari mana saja. Bahkan benda tersembunyi yang letaknya di bawah kolong rumah, bisa saja mendatangkan rezeki.
Sekalipun hanya tinggal di rumah, sangat mungkin orang-orang berdatangan ke rumah mengantarkan rezeki. Bahkan antri untuk memberikan uang.
Kalau sudah menyangkut rezeki, yakinlah tidak akan tertukar kemanapun.
Dengan berbagai alasan dan cara, rezeki tersebut naik, mengalir mendatangi pemilik rumah.
Menurut agama, semakin bersyukur, rezeki akan terus bertambah. Keyakinan itulah yang tersirat dari paribasa ini, sehingga jangan pernah takut tidak mendapatkannya.
Betapa banyak orang datang ke rumah seorang yang sudah tua, tidak mampu kemana-mana lagi – hanya di rumah saja, lalu meminta doa, atau air obat penawar, lantas memberikan amplop tanda terimakasih.
Juga ada yang datang sekedar bertanya masa depan, nasib, jodoh dan sebagainya. Ada juga yang bisanya hanya memijat sekedarnya dan dianggap mujarab, akhirnya berbondong-bondong orang datang ke rumah.
Semua itu hanyalah cara bagi Allah dalam mendatangkan rezeki bagi pemilik rumah, karena rezeki bisa datang dari mana saja, mungkin datang di tungkat di galar.
Lantas, rumah seperti apa yang tersirat dalam paribasa ini?
Tentu saja rumah yang terbuka bagi siapa pun untuk datang. Tempat belajar dan berbagi semua orang, wadah perjumpaan segala potensi untuk berkembang.
Sebab itu, dalam konsep ruang rumah Banjar, selain kamar-kamar bagi penghuninya, ada ambin sebagai ruang sosial, ada tawing halat untuk menerima tamu yang datang, ada palidangan yang berfungsi sebagai ruang publik atau ruang bersama, dan ada dapur atau padu, untuk mengolah dan mengunyah, bermakna ruang bagi proses bertumbuh penghuninya.
Bisa dibayangkan, dengan konsep seperti itu, rumah terbuka pada datangnya rezeki, karena tersedia ruang sosial dan ruang publik, sebagai satu kesatuan yang dapat membentuk para penghuni rumah menjadi makhluk sosial yang terbuka berintekasi pada siapapun. Ketika terbuka berinteraksi, maka rezeki juga akan terbuka.
Konsep rumah seperti itu, tentu saja sekarang bertarung dengan konsep rumah kekininan. terlebih ketika mengusung konsep minimalis, sederhana, privasi dan sebagainya, akhirnya tidak tersedia lagi ruang sosial (ambin, palataran) dan ruang publik (palidangan) di rumah-rumah orang Banjar. (nm)
KALI DIBACA

