Pak Rudy, Bapak Pendidikan Kalsel Oleh : Sukarni (Dosen UIN Antasari) - Warta Global Kalsel

Mobile Menu

Top Ads

Whatshop - Tema WhatsApp Toko Online Store Blogger Template

Berita Update Terbaru

logoblog

Pak Rudy, Bapak Pendidikan Kalsel Oleh : Sukarni (Dosen UIN Antasari)

Sunday, 6 September 2026


Banjarmasin, Warta Global Kalsel - Ketika mendengar berita duka hari ini bahwa Pak Rudy Ariffin meninggal dunia, ingatan saya langsung tertuju pada sebuah lembaga pendidikan kebanggaan orang Banua: SMA Negeri Banua Bilingual Boarding School (BBS) Kalimantan Selatan.


Bagi saya, sekolah ini merupakan salah satu warisan paling penting dari kepemimpinan Pak Rudy Ariffin. Sebuah gagasan pendidikan yang lahir dari pandangan jauh ke depan tentang masa depan anak-anak Banua.


Pak Rudy tampaknya sangat sadar bahwa anak-anak Kalimantan Selatan tidak kalah dalam potensi dan bakat intelektual dibandingkan anak-anak dari daerah lain. Yang mereka perlukan adalah kesempatan, lingkungan belajar yang baik, guru-guru yang berkualitas, dan sistem pendidikan yang mampu mengasah potensi mereka secara maksimal. Kesadaran seperti itu tidak berhenti sebagai gagasan. Ia diwujudkan dalam sebuah lembaga pendidikan yang dirancang secara serius.

SMA Banua Bilingual Boarding School menjadi salah satu ikhtiar penting untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak daerah. Sistem boarding memungkinkan proses pendidikan berlangsung tidak hanya di ruang kelas, tetapi juga melalui pembentukan karakter, kedisiplinan, kemandirian, kebersamaan, dan budaya belajar.

Saya kira di sinilah letak visi besar Pak Rudy. Beliau tidak sekadar berpikir tentang bagaimana membangun sesuatu yang dapat dilihat dan dirasakan hasilnya hari ini. Beliau berpikir tentang bagaimana menyiapkan generasi yang baru akan memetik hasilnya bertahun-tahun kemudian.

Pembangunan jalan, jembatan, gedung, dan berbagai infrastruktur lainnya memang penting. Tetapi membangun manusia adalah investasi yang jauh lebih panjang. Gedung dapat berdiri dalam hitungan bulan atau tahun, tetapi manusia berkualitas membutuhkan proses pendidikan yang panjang. Dan Pak Rudy memilih masuk ke wilayah investasi yang panjang itu. Hasilnya kini mulai terlihat. Alumni-alumni SMA Banua telah diterima di berbagai Perguruan Tinggi Kedinasan, Perguruan Tinggi terbaik di dalam negeri, bahkan Perguruan Tinggi di luar negeri. Mereka tersebar di berbagai bidang dan membawa nama Kalimantan Selatan ke ruang-ruang pendidikan dan profesi yang lebih luas.

Setiap kali seorang alumni sekolah itu berhasil memasuki Perguruan Tinggi bergengsi, sesungguhnya kita sedang melihat kembali sebuah keputusan yang pernah dibuat bertahun-tahun sebelumnya.

Di balik keberhasilan seorang anak Banua, ada ruang kelas yang pernah dibangun, ada guru yang pernah mengajar, ada orang tua yang pernah berharap, dan ada kebijakan seorang pemimpin yang pernah percaya bahwa anak-anak daerahnya memiliki kemampuan untuk bersaing. Di situlah jasa seorang pemimpin sering kali tidak langsung terlihat.

Seorang pemimpin visioner mungkin tidak sempat menyaksikan seluruh hasil dari kebijakannya. Ia menanam hari ini, sementara buahnya mungkin baru dinikmati sepuluh, dua puluh, bahkan tiga puluh tahun kemudian.

Pendidikan memang investasi yang mahal. Membiayai pendidikan yang bermutu membutuhkan anggaran besar, kesungguhan, tenaga, dan kesabaran. Tetapi bangsa yang ingin maju tidak boleh takut berinvestasi pada pendidikan.Sebab, pada akhirnya, kualitas sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak gedung yang berhasil dibangun, tetapi oleh seberapa banyak manusia berkualitas yang berhasil dilahirkan.

Pak Rudy tampaknya memahami prinsip itu. Karena itu, ketika hari ini kita kehilangan beliau, saya tidak hanya mengingat seorang mantan gubernur. Saya mengingat seorang pemimpin yang pernah menaruh kepercayaan besar kepada generasi muda Banua.

Kepercayaan itu sangat penting. Sebab sering kali anak-anak dari daerah tidak kalah pintar dengan anak-anak dari kota-kota besar. Yang membedakan hanyalah kesempatan. Ketika kesempatan itu diberikan, ketika potensi itu diasah, ketika mereka mendapatkan pendidikan yang baik, mereka mampu berdiri sejajar dengan siapapun.

SMA Banua Bilingual Boarding School adalah salah satu bukti dari keyakinan tersebut. Karena itu, saya kira sangat layak jika kita mengenang Pak Rudy bukan hanya sebagai mantan Gubernur Kalimantan Selatan, tetapi juga sebagai Bapak Pendidikan Kalsel.

Gelar itu bukan karena beliau mendirikan satu sekolah semata. Lebih dari itu, karena beliau pernah menunjukkan keberanian seorang pemimpin untuk berinvestasi pada masa depan yang belum tentu sempat ia nikmati sendiri.Dan pendidikan memang demikian.

Kita menanam ilmu kepada anak-anak hari ini, sementara manfaatnya mungkin baru dirasakan masyarakat puluhan tahun kemudian. Seorang guru mengajar satu anak, tetapi anak itu kelak mungkin mendidik ribuan orang. Sebuah sekolah dibangun untuk ratusan siswa, tetapi alumninya kelak mungkin membangun negeri.

Karena itu, amal pendidikan memiliki dimensi yang sangat panjang.Dalam perspektif Islam, ilmu yang bermanfaat merupakan salah satu amal yang terus mengalir pahalanya. Selama ilmu itu diamalkan dan memberikan manfaat kepada orang lain, selama itu pula jejak kebaikannya terus hidup.

Maka, boleh jadi Pak Rudy telah meninggalkan salah satu bentuk amal jariah yang sangat panjang melalui dunia pendidikan.

Anak-anak Banua yang pernah belajar di sana, para guru yang pernah mengabdikan diri, para alumni yang kini mengembangkan karier dan ilmunya, semuanya menjadi bagian dari mata rantai kebaikan itu.

Pak Rudy memang telah pergi.Tetapi gagasan besarnya tentang pendidikan tidak boleh ikut pergi.Justru kepergian beliau harus menjadi momentum bagi kita untuk meneruskan apa yang pernah beliau mulai: memberikan kesempatan terbaik kepada anak-anak Banua untuk tumbuh, belajar, dan berprestasi.

Sekolah itu harus terus berkembang. Mutunya harus terus dijaga. Anak-anak Banua harus terus didorong untuk berani bermimpi besar. Dan pemerintah, masyarakat, serta dunia pendidikan harus terus bersinergi agar investasi pada manusia tidak pernah berhenti.
Sebab warisan seorang pemimpin bukan hanya apa yang ia tinggalkan dalam bentuk bangunan dan kebijakan. Warisan terbesar seorang pemimpin adalah manusia-manusia yang menjadi lebih baik karena kebijakannya.

Selamat jalan, Pak Rudy Ariffin. Kami kehilangan seorang tokoh visioner.
Tetapi kami percaya, sebagian dari cita-cita dan kebaikan Bapak akan terus hidup melalui anak-anak Banua yang Bapak percaya mampu berdiri sejajar dengan anak-anak terbaik dari manapun.

Semoga Allah menerima seluruh amal baik Bapak, mengampuni segala kekhilafan, melapangkan jalan menuju keharibaan-Nya, dan menjadikan ilmu serta generasi yang pernah Bapak bantu sebagai amal jariah yang tidak pernah terputus. Doa anak-anak Banua, para guru, dan para alumni akan selalu menyertai perjalanan Bapak menuju keabadian. Al-Fatihah.*****

KALI DIBACA