Sukarni (Dosen UIN Antasari) : "Membaca Teks Maulid" - Warta Global Kalsel

Mobile Menu

Top Ads

Whatshop - Tema WhatsApp Toko Online Store Blogger Template

Berita Update Terbaru

logoblog

Sukarni (Dosen UIN Antasari) : "Membaca Teks Maulid"

Wednesday, 26 August 2026



Banjarmasin, Warta Global Kalsel - Sejak dulu, orang Banjar sangat akrab dengan teks-teks maulid. Di berbagai kampung, masjid, langgar, dan rumah-rumah, lantunan maulid menjadi bagian dari kehidupan keagamaan masyarakat. Teks-teks itu umumnya berbahasa Arab, dipenuhi doa, salawat, pujian kepada Nabi Muhammad saw., kisah kelahiran dan perjalanan hidup beliau, serta pada sebagian tradisi disertai doa dan tawassul. Karena itu, maulid bukan sekadar bacaan, tetapi telah menjadi bagian dari ekspresi keagamaan dan kebudayaan masyarakat Banjar.


Ada sejumlah teks maulid yang sangat populer di Kalimantan Selatan dan dunia Islam, antara lain al-Barzanji, al-Diba'i, Syaraf al-Anam, Burdah, Dalā'il al-Khairāt, Simṭud Durar yang populer disebut Maulid Habsyi, dan Maulid al-'Azab. Masing-masing lahir dari lingkungan intelektual dan sejarah yang berbeda. Simṭud Durar, misalnya, merupakan karya Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi dan mulai disusun pada awal abad ke-20. Sementara Maulid al-'Azab ditulis oleh Syekh Muhammad bin Muhammad al-'Azab al-Madani.

Banyaknya karya maulid menunjukkan adanya kebutuhan umat untuk mengenal lebih dekat sosok Nabi Muhammad saw. Al-Qur'an dan hadis memang memberikan gambaran yang sangat kaya tentang Rasulullah, tetapi tidak menyajikan satu kisah biografis lengkap tentang kelahiran beliau dalam bentuk narasi maulid sebagaimana yang dikenal masyarakat sekarang. 

Al-Qur'an lebih banyak berbicara tentang Nabi Muhammad dalam konteks kerasulan, akhlak, perjuangan, hubungan beliau dengan umat, serta misi membawa rahmat bagi alam semesta. Karena itu, para ulama dan penyair Muslim kemudian menulis karya-karya yang menghimpun kisah kehidupan, keutamaan, akhlak, dan pujian kepada Rasulullah dalam bentuk prosa dan syair.

Memang terdapat ayat-ayat yang oleh sebagian ulama dan tradisi tafsir dihubungkan dengan peristiwa yang mengiringi kelahiran atau masa awal kehidupan Nabi, seperti Surah al-Fīl dan Surah Quraisy. Ada pula ayat yang mengisahkan berita Nabi Isa kepada Bani Israil tentang akan datangnya seorang rasul bernama Ahmad, sebagaimana dalam QS. al-Shaff [61]: 6. Namun, ayat-ayat tersebut tentu tidak dapat disamakan dengan narasi maulid yang kemudian berkembang dalam tradisi umat Islam. Di sinilah karya-karya maulid memiliki fungsi penting: menghadirkan sosok Nabi dalam bahasa yang lebih puitis, emosional, dan menyentuh perasaan umat.

Namun, ada satu hal yang sering terlewat ketika kita membaca teks-teks maulid: teks tersebut bukanlah buku sejarah yang seluruh kalimatnya harus dibaca secara harfiah. Banyak bagian di dalamnya merupakan syair pujian. Karena itu, ia menggunakan gaya bahasa yang indah, simbolik, hiperbolik, dan penuh ungkapan kiasan. Tradisi sastra Arab memang memiliki kekayaan bahasa yang luar biasa. Para penyair tidak selalu mengatakan sesuatu dengan bahasa langsung. Mereka menggunakan perumpamaan, metafora, simbol, sindiran halus, dan berbagai bentuk keindahan bahasa untuk menyampaikan penghormatan dan kekaguman.

Di sinilah ilmu balāghah, khususnya 'ilm al-bayān, menjadi sangat penting. Ilmu bayān mengajarkan bagaimana suatu makna dapat disampaikan dengan berbagai bentuk ungkapan, terutama melalui tasybīh (perumpamaan), isti'ārah (metafora), dan kināyah (ungkapan tidak langsung). Dengan perangkat ini, pembaca dapat membedakan antara makna literal dan makna figuratif. Ia tidak tergesa-gesa memahami sebuah ungkapan secara harfiah, tetapi terlebih dahulu bertanya: apa yang hendak disampaikan oleh pengarang melalui pilihan bahasa tersebut?
Misalnya, dalam Maulid al-'Azab terdapat ungkapan tentang nūr Nabi yang digambarkan dengan bahasa yang sangat puitis. Teksnya menyebut, antara lain, “min nūrihi nūran bihi 'ammal-hudā”—cahaya dari-Nya yang dengannya petunjuk menyebar. Jika ungkapan seperti ini dibaca hanya dengan kamus, pembaca mungkin akan segera memperdebatkan apakah “cahaya” tersebut benar-benar cahaya dalam pengertian fisik. Padahal, dalam bahasa sastra, nūr dapat menjadi metafora bagi petunjuk, kemuliaan, atau sumber kebaikan. Di sinilah isti'ārah membantu pembaca menangkap pesan yang lebih dalam daripada sekadar arti harfiah.

Demikian pula ketika Nabi dipuji dengan ungkapan-ungkapan yang sangat tinggi. Dalam Syaraf al-Anam, misalnya, Nabi disapa dengan rangkaian pujian seperti “zayn al-anbiyā'” (perhiasan para nabi), “atqā al-atqiyā'” (yang paling bertakwa di antara orang-orang bertakwa), dan “azkā al-azkiyā'” (yang paling suci di antara orang-orang yang suci). Ungkapan semacam ini harus dibaca dalam tradisi bahasa pujian. Ia menunjukkan penghormatan dan kecintaan yang mendalam kepada Nabi, bukan sekadar pernyataan informatif sebagaimana kalimat dalam buku sejarah.
Bahkan keindahan teks maulid tidak hanya terletak pada ilmu bayān. Dalam kajian balāghah yang lebih luas, kita juga dapat menemukan persoalan ma'ānī dan badī'. Kajian terhadap Maulid al-'Azab, misalnya, menemukan penggunaan jinās dan thibāq, dua bentuk keindahan bahasa yang termasuk dalam 'ilm al-badī'. Penelitian lain terhadap Syaraf al-Anam juga menemukan banyak bentuk jinās dalam syair dan prosa kitab tersebut. Ini menunjukkan bahwa keindahan bahasa dalam teks maulid bukan kebetulan. Para pengarangnya memang bekerja dalam tradisi sastra Arab yang kaya dengan perangkat retorika.

Karena itu, membaca maulid sesungguhnya tidak cukup hanya dengan membaca tulisan Arab dan terjemahannya. Kita juga perlu memahami jiwa bahasanya. Terjemahan membantu kita mengetahui makna, tetapi balāghah membantu kita menangkap rasa. Terjemahan memberitahu apa yang dikatakan, sedangkan ilmu bahasa membantu kita memahami mengapa sesuatu dikatakan dengan cara tertentu.
Kesalahan membaca teks maulid dapat terjadi ketika bahasa pujian diperlakukan sebagai bahasa laporan ilmiah. Kalimat yang sebenarnya metaforis dianggap sebagai fakta literal. Ungkapan puitis dianggap sebagai pernyataan teologis yang harus diterima secara harfiah.

Sebaliknya, karena tidak memahami gaya bahasa, seseorang bisa pula menuduh teks maulid berlebihan hanya karena tidak memahami tradisi sastra Arab yang melatarbelakanginya. Kedua sikap tersebut sama-sama kehilangan konteks.
Masyarakat Banjar sebenarnya memiliki modal budaya yang sangat besar untuk memahami hal ini. 

Mereka tidak hanya membaca maulid, tetapi juga menghidupkan teks melalui lantunan suara, irama, salawat, dan suasana kebersamaan. Artinya, maulid telah menjadi pengalaman spiritual dan estetis sekaligus. Orang tidak hanya mendengar kata-kata Arab, tetapi juga merasakan kecintaan kepada Rasulullah melalui suasana majelis. Inilah salah satu alasan mengapa tradisi maulid dapat bertahan begitu kuat dalam kehidupan masyarakat.

Karena itu, generasi sekarang perlu diajak naik satu tingkat: dari sekadar “membaca maulid” menuju “memahami maulid.” Anak-anak muda perlu dikenalkan bahwa di balik syair yang mereka lantunkan terdapat sejarah, sastra, teologi, kecintaan kepada Nabi, dan kekayaan bahasa Arab yang luar biasa. Mereka perlu diajak bertanya mengapa pengarang menggunakan kata tertentu, mengapa Nabi digambarkan dengan metafora tertentu, dan apa pesan spiritual yang hendak disampaikan melalui bahasa tersebut.
Dengan cara itu, maulid tidak akan berhenti sebagai ritual membaca teks yang berulang setiap tahun. Ia dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal Nabi Muhammad saw. secara lebih mendalam sekaligus mengenal keindahan bahasa Arab dan khazanah intelektual Islam. Maulid bukan hanya untuk didengar dengan telinga, tetapi juga untuk dipahami dengan akal dan dirasakan dengan hati.
Pada akhirnya, mungkin inilah cara yang lebih bijak dalam menyikapi teks-teks maulid: tidak mengkultuskannya, tetapi juga tidak meremehkannya; tidak menelan seluruh ungkapan secara harfiah, tetapi juga tidak buru-buru menolaknya. Bacalah ia dalam tradisi bahasa dan sastra yang melahirkannya. Pahami tasybīh, isti'ārah, dan kināyah-nya. Rasakan keindahan syairnya. Tangkap pesan kecintaannya. Lalu bawa kecintaan itu ke dalam kehidupan nyata.

Sebab, tujuan akhir membaca maulid bukanlah sekadar mampu melafalkan teks Arab dengan lancar. Tujuan akhirnya adalah agar semakin mengenal Nabi, semakin mencintainya, semakin memahami akhlaknya, dan semakin terdorong untuk meneladaninya. Dengan demikian, maulid tidak berhenti di bibir sebagai syair pujian, tetapi turun ke hati sebagai kecintaan dan naik kembali ke kehidupan sebagai keteladanan.*****

KALI DIBACA