Pundut Nasi, Kuliner Banjarmasin dengan Kearifan Lokal               Oleh : Muhammad Junaidi Nasri (MAHAJUNA) - Warta Global Kalsel

Mobile Menu

Top Ads

Whatshop - Tema WhatsApp Toko Online Store Blogger Template

Berita Update Terbaru

logoblog

Pundut Nasi, Kuliner Banjarmasin dengan Kearifan Lokal               Oleh : Muhammad Junaidi Nasri (MAHAJUNA)

Friday, 14 August 2026


Banjarmasin, Sabtu (15/8/2026), Warta Global Kalsel - Ada makanan yang bukan hanya mengenyangkan perut, tetapi juga membawa kita kembali ke masa lalu. 

Bagi saya, salah satunya adalah pundut nasi, kuliner khas Banjarmasin yang sudah saya kenal sejak tahun 1970-an, ketika saya masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak.

Sampai sekarang, bentuk dan cara penyajiannya masih begitu akrab diingatan. Nasi dibungkus dengan daun, kemudian ditutup rapat dan dikunci menggunakan potongan lidi yang oleh masyarakat Banjarmasin disebut semat.

Di dalamnya ada nasi yang sederhana, tetapi memiliki rasa yang khas. Ditambah sambal merah yang tidak terlalu pedas. Bukan untuk membuat lidah kepanasan, melainkan sekadar memberikan sentuhan rasa yang membuat pundut nasi semakin nikmat.

Kenangan itu kembali hadir pagi ini.
Usai melaksanakan salat Subuh yang dilanjutkan dengan ceramah agama, para jamaah Masjid Ar Rahim, Jalan Sultan Adam, Banjarmasin, dipersilakan menikmati pundut nasi bersama teh panas manis.

Suasanapun menjadi semakin hangat. Bukan hanya karena teh panas yang mengepul, tetapi juga karena percakapan para jamaah yang mengalir begitu saja.
Ada yang bercerita tentang masa lalu, ada yang mengingat makanan ketika masih kecil, dan ada pula yang kemudian berbincang tentang berbagai hal lainnya.

Bagi mereka yang sejak kecil pernah menikmati pundut nasi, makanan ini seakan menjadi pintu kecil menuju kenangan lama. Sekali membuka bungkusnya, kenangan masa kanak-kanakpun ikut terbuka.

Saya sendiri merasakan hal yang sama.
Ketika melihat pundut nasi pagi ini, saya seperti kembali menjadi anak TK. Cara membungkusnya masih sama seperti yang saya kenal puluhan tahun lalu. Penjualnya tentu sudah berbeda, bahkan mungkin sudah berganti beberapa generasi. Namun, tradisinya tetap bertahan.

Daun yang digunakan sebagai pembungkus bukan sekadar pembungkus makanan. Di sana ada kearifan lokal yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bungkus daun membuat pundut nasi mudah dibawa, tetap tertutup dan terlindungi. Semat dari potongan lidi membuatnya mudah dibuka ketika hendak disantap, sekaligus menjaga bungkus tetap rapat.

Inilah menariknya kuliner tradisional. Di tengah berbagai kemasan modern yang semakin beragam, pundut nasi masih bertahan dengan kesederhanaannya.
Tidak membutuhkan kemasan mewah. Tidak pula harus tampil berlebihan.
Cukup nasi, daun, semat, sambal merah dan rasa yang sudah akrab di lidah masyarakat Banjarmasin sejak dahulu.

Lebih dari sekadar makanan, pundut nasi adalah bagian dari cerita kehidupan. Ia membawa rasa, tradisi dan kenangan sekaligus.

Dan pagi ini, di halaman Masjid Ar Rahim, pundut nasi bukan hanya menjadi sarapan. Ia menjadi pengikat silaturahmi dan menghadirkan kembali kenangan masa kecil yang mungkin sudah lama tersimpan di sudut ingatan.
Pundut nasi boleh sederhana, tetapi cerita di baliknya sungguh kaya.*****juna

KALI DIBACA