Dr. H. Muhammad Syaukani, ST., SH., M.Cs., M.Pd., M.Kom. selaku Rektor ITBA Dian Cipta Cendikia Bandar Lampung : "Fenomena Menurunnya Minat Generasi Muda Untuk Menjadi Dosen" - Warta Global Kalsel

Mobile Menu

Top Ads

Whatshop - Tema WhatsApp Toko Online Store Blogger Template

Berita Update Terbaru

logoblog

Dr. H. Muhammad Syaukani, ST., SH., M.Cs., M.Pd., M.Kom. selaku Rektor ITBA Dian Cipta Cendikia Bandar Lampung : "Fenomena Menurunnya Minat Generasi Muda Untuk Menjadi Dosen"

Thursday, 25 June 2026




Banjarmasin, dWarta Global Kalsel - Fenomena menurunnya minat generasi muda untuk menjadi Dosen merupakan sinyal yang harus disikapi secara serius. Persoalannya bukan semata-mata tentang besaran penghasilan, tetapi menyangkut bagaimana Negara dan Perguruan Tinggi memposisikan profesi dosen sebagai profesi strategis dalam pembangunan bangsa.

Kita tidak mungkin berbicara mengenai Indonesia Emas 2045 apabila profesi dosen justru kehilangan daya tarik bagi talenta-talenta terbaik. Seluruh inovasi, riset, serta pengembangan Sumber Daya Manusia bermula dari kualitas Dosen yang dimiliki Perguruan Tinggi.

Saya sependapat bahwa sistem penghargaan berbasis kompetensi, produktivitas riset, inovasi, dan kontribusi kepada Masyarakat perlu terus dikembangkan. Meritokrasi merupakan instrumen penting untuk mendorong lahirnya Perguruan Tinggi yang kompetitif di tingkat global. Namun meritokrasi hanya dapat berjalan secara sehat apabila seluruh dosen terlebih dahulu memperoleh kesejahteraan yang layak sebagai pondasi dasar profesinya.

Kita tidak dapat menuntut dosen menghasilkan publikasi internasional, paten, inovasi, dan kolaborasi global apabila sebagian dari mereka masih harus berjuang memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Oleh karena itu, menurut saya terdapat dua lapisan kebijakan yang harus berjalan bersamaan: pertama, menjamin standar kesejahteraan minimum bagi seluruh Dosen; kedua, memberikan insentif yang kompetitif bagi Dosen yang memiliki kinerja unggul.

Selain aspek kesejahteraan, reformasi birokrasi akademik juga menjadi kebutuhan mendesak. Saat ini banyak Dosen menghabiskan energi untuk pekerjaan administratif dibandingkan melakukan penelitian, membimbing mahasiswa, atau menghasilkan inovasi. Transformasi digital perguruan tinggi harus diarahkan untuk mengurangi beban administrasi sehingga dosen dapat kembali fokus pada pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Perguruan Tinggi juga harus mengubah paradigma pengembangan karier dosen. Dosen masa depan tidak cukup hanya menjadi pengajar, tetapi harus menjadi peneliti, inovator, entrepreneur akademik, konsultan industri, serta kolaborator internasional. Dengan ekosistem seperti itu, profesi Dosen akan kembali memiliki nilai ekonomi sekaligus prestise sosial yang tinggi.

Pada akhirnya, investasi terbaik suatu bangsa bukan hanya membangun gedung kampus atau laboratorium modern, melainkan membangun kualitas manusianya. Dan kualitas manusia Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas Dosen yang mendidik generasi penerus. Karena itu, menjadikan profesi dosen kembali menarik bukan sekadar kepentingan perguruan tinggi, melainkan investasi strategis bagi masa depan Indonesia.*****juna



KALI DIBACA