Sukses Gadis Pelaku UMKM Cireng, Cimol, dan Dimsum *** Dari Hobi Memasak, Zahratun Naimah Bangun Kemandirian Lewat Kedai Cirebu - Warta Global Kalsel

Mobile Menu

Top Ads

Whatshop - Tema WhatsApp Toko Online Store Blogger Template

Berita Update Terbaru

logoblog

Sukses Gadis Pelaku UMKM Cireng, Cimol, dan Dimsum *** Dari Hobi Memasak, Zahratun Naimah Bangun Kemandirian Lewat Kedai Cirebu

Sunday, 18 October 2026



Martapura, Kalimantan Selatan, Warta Global Kalsel - Tidak semua perjalanan menuju kesuksesan dimulai dengan langkah yang mudah. Ada kalanya, pengalaman pahit justru menjadi pintu untuk menemukan kekuatan diri dan membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik. Itulah bagian dari perjalanan hidup Zahratun Naimah, perempuan muda asal Martapura, Kalimantan Selatan.


Pengalaman menjadi korban penipuan online pernah menjadi bagian dari kisah hidupnya. Namun, Zahra tidak ingin terus terpuruk dalam keadaan tersebut. Ia memilih bangkit, menata kembali langkah, dan membangun kemandirian melalui usaha kuliner.


Berbekal kegemaran memasak yang telah lama dimilikinya, Zahra merintis usaha jajanan dengan nama Kedai Cirebu. Dari sesuatu yang awalnya sekadar hobi, ia perlahan membangun bisnis yang kini mendapat tempat di hati masyarakat, terutama kalangan pelajar dan anak muda di Martapura.


Bagi Zahra, memasak bukan hanya kegiatan untuk mengisi waktu luang. Ia melihat ada peluang yang bisa dikembangkan dari kegemarannya tersebut. Dengan keberanian mencoba dan kemauan untuk terus belajar, ia mulai mengubah hobi menjadi sumber penghasilan.

Berawal pada 2018, Kian Serius pada 2024
Kedai Cirebu sejatinya telah dirintis sejak 2018. Namun, langkah Zahra dalam mengembangkan usaha menjadi lebih serius terlihat pada 2024, ketika ia mulai memberanikan diri membuka stan untuk menjangkau lebih banyak pelanggan.
Ia melihat jajanan kekinian memiliki pasar yang cukup menjanjikan, khususnya di kalangan anak muda.

Cireng, cimol, dan dimsum menjadi bagian dari produk kuliner yang ditawarkan kepada konsumen.

Dengan menghadirkan jajanan yang terjangkau dan sesuai dengan selera pasar, Zahra berupaya menjadikan Kedai Cirebu sebagai pilihan bagi mereka yang ingin menikmati camilan tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

“Awalnya memang dari hobi memasak. Seiring berjalannya waktu, saya melihat bahwa hobi ini memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi usaha yang lebih serius dan berkelanjutan,” ungkap Zahra.

Langkah demi langkah pun dijalaninya. Usaha yang dirintis dengan keberanian dan ketekunan itu mulai menunjukkan perkembangan.

Kini, Kedai Cirebu telah memiliki dua lokasi usaha di Martapura. Lokasi pertama berada di halaman Indomaret Alun-Alun Martapura, sedangkan lokasi kedua berada di seberang Pondok Pesantren Darussalam Martapura.
Keberadaan dua lokasi tersebut menjadi pencapaian tersendiri bagi Zahra. Bukan semata-mata tentang bertambahnya tempat berjualan, melainkan juga tentang bagaimana sebuah usaha yang berawal dari kegemaran memasak dapat berkembang melalui proses dan kerja keras.

Di balik kesibukannya mengurus usaha kuliner, Zahra juga memiliki tanggung jawab lain yang tidak kalah penting. Ia saat ini menjabat sebagai Ketua Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PW IPPNU) Kalimantan Selatan. Pengalaman menempuh pendidikan di lingkungan pesantren sejak jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas turut membentuk karakter disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab dalam dirinya.
  
Bagi Zahra, berorganisasi bukan sekadar menjalankan jabatan. Ada kesempatan untuk belajar memimpin, membangun komunikasi, memperluas jaringan, serta memahami berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Pengalaman tersebut juga menjadi bekal dalam menjalankan usaha. Sebaliknya, dunia bisnis mengajarkannya untuk lebih cermat mengambil keputusan, mengelola tanggung jawab, dan memahami kebutuhan orang lain.

Dua dunia yang berbeda itu justru saling melengkapi dalam proses pendewasaan dirinya. Ditengah kesibukan berorganisasi dan mengembangkan Kedai Cirebu, Zahra tetap menjalani pendidikan sebagai mahasiswi Program Studi Manajemen di STIE Pancasetia Banjarbaru. Ilmu yang diperolehnya di bangku kuliah menjadi bekal untuk memahami pengelolaan bisnis secara lebih terarah. Ia memiliki kesempatan untuk memadukan teori manajemen dengan pengalaman nyata dalam menjalankan usaha.

Menjalani peran sebagai mahasiswa, aktivis perempuan, sekaligus pengusaha muda tentu membutuhkan kemampuan mengatur waktu dan menentukan prioritas. Namun, bagi Zahra, setiap peran tersebut memberikan pelajaran yang berbeda dan memperkaya pengalamannya.

Perjalanan Zahra di dunia usaha dan organisasi turut mengantarkannya meraih sejumlah pencapaian. Salah satunya adalah KNPI Award 2024 dalam bidang Organisasi Kepemudaan, kategori Aktivis Perempuan Muda Berkarakter dan Inovatif. Selain menjalankan usaha dan aktivitas organisasi, Zahra juga kerap terlibat sebagai narasumber dalam kegiatan pengembangan UMKM. Ia turut berbagi pengalaman sebagai pembicara dalam pelatihan kepemudaan dan kaderisasi.

Keterlibatan tersebut membuka ruang baginya untuk menyampaikan pentingnya keberanian memulai, kemauan belajar, dan semangat mengembangkan potensi diri. Pengalaman membangun usaha dari hobi memberinya sudut pandang bahwa peluang tidak selalu datang dalam bentuk yang besar. Terkadang, peluang justru hadir dari sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, asalkan seseorang mampu melihat dan mengembangkannya.

Perjalanan Zahra juga memperlihatkan bahwa kesuksesan tidak harus menunggu seseorang menyelesaikan seluruh persoalan hidupnya. Langkah kecil yang dijalankan secara konsisten dapat menjadi bagian penting dari perubahan yang lebih besar.

Melalui moto hidup “Perempuan Bertumbuh, Berdaya, dan Berdampak,” Zahra berharap perjalanan dan kiprahnya dapat menjadi inspirasi bagi perempuan muda di Banua, khususnya mereka yang sedang berusaha membangun masa depan dan merintis usaha.
Ia ingin menunjukkan bahwa perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan kemampuan, membangun kemandirian ekonomi, serta mengambil peran dalam kehidupan sosial.

Sebaliknya, pengalaman tersebut dapat menjadi pelajaran untuk lebih berhati-hati, memperbaiki diri, dan menata masa depan dengan lebih baik. Kisah Kedai Cirebu juga membawa pesan bahwa membangun usaha tidak selalu membutuhkan langkah besar pada awalnya. Kegemaran memasak, keberanian membuka stan, serta kemauan memahami selera pelanggan dapat menjadi fondasi untuk mengembangkan bisnis secara bertahap.

Bagi Zahra, perjalanan ini bukan hanya tentang menjual cireng, cimol, dan dimsum. Lebih dari itu, ada proses belajar menjadi pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, dan mampu mengelola berbagai kesempatan yang datang.

Dari Martapura, ia menapaki jalan yang dipilihnya sendiri. Dengan usaha kuliner yang terus dikembangkan, pendidikan yang dijalani, dan pengabdian melalui organisasi, Zahra berupaya membuktikan bahwa perempuan muda dapat bertumbuh dalam berbagai bidang sekaligus. Sebab, keberhasilan sejati bukan hanya tentang seberapa jauh seseorang melangkah, tetapi juga tentang bagaimana ia bangkit dari kesulitan, mengembangkan potensi diri, dan menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Bagi Zahra, perjalanan menuju kemandirian masih terus berlangsung, satu langkah demi satu langkah.*****juna

KALI DIBACA