Mensyukuri Indonesia - Oleh :  Sukarni (Dosen UIN Antasari) - Warta Global Kalsel

Mobile Menu

Top Ads

Whatshop - Tema WhatsApp Toko Online Store Blogger Template

Berita Update Terbaru

logoblog

Mensyukuri Indonesia - Oleh :  Sukarni (Dosen UIN Antasari)

Wednesday, 21 October 2026



Banjarmasin - Warta Global Kalsel - 
Mensyukuri Indonesia
Bagi mereka yang pernah bepergian ke luar negeri, mungkin akan merasakan betapa beruntungnya tinggal di Indonesia. Alamnya relatif bersahabat, pepohonan hijau membentang, sungai-sungai mengalir, dan beragam adat budaya serta kearifan lokal tumbuh mengagumkan. Di banyak tempat, kita masih dapat menikmati udara terbuka, berjalan di bawah rindangnya pepohonan, atau menyaksikan bentang alam yang menyegarkan mata. Semua itu terasa biasa karena kita mengalaminya setiap hari. Padahal, tidak semua bangsa memiliki anugerah alam seperti ini.


Cobalah membayangkan kehidupan di sebagian kawasan Timur Tengah. Pada musim panas, suhu udara dapat terasa sangat menyengat, bahkan membatasi aktivitas di luar ruangan. Sebaliknya, ketika musim dingin tiba, suhu di sejumlah wilayah dapat turun begitu rendah hingga orang harus mengenakan pakaian berlapis-lapis untuk melindungi tubuhnya. Di kawasan tertentu, curah hujan yang terbatas membuat air menjadi sumber daya yang sangat berharga. Pepohonan tidak tumbuh dengan mudah, dan hamparan hijau yang bagi kita terasa biasa bisa menjadi pemandangan yang istimewa.

Tentu, setiap negeri memiliki karakter geografis, keindahan, dan kelebihannya sendiri. Tidak tepat menilai keunggulan suatu negara semata-mata dari kondisi alamnya. Namun, perbandingan itu setidaknya mengajak kita menyadari bahwa Indonesia memiliki banyak karunia yang patut disyukuri. Iklim tropis, curah hujan yang relatif melimpah di banyak wilayah, tanah yang subur, keanekaragaman hayati, serta kekayaan laut dan hutan merupakan anugerah yang menopang kehidupan jutaan manusia. Belum lagi kekayaan budaya dan kearifan lokal yang mengajarkan cara hidup berdampingan dengan alam.

Bersyukurlah dengan alam yang bernama Indonesia. Kalimat ini bukan sekadar ungkapan kebanggaan kebangsaan, melainkan ajakan untuk membuka mata dan hati. Jangan sampai kita baru menyadari betapa berharganya air bersih setelah sungai tercemar, betapa pentingnya hutan setelah banjir dan longsor melanda, atau betapa mahalnya udara sehat setelah kabut asap membuat kita kesulitan bernapas.

Dalam perspektif agama, syukur bukan hanya pengakuan lisan atas nikmat yang diterima. Syukur menuntut kesadaran, sikap, dan tindakan yang sejalan dengan nilai-nilai kebaikan. Al-Qur'an mengingatkan, la'in syakartum la'azīdannakum—jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu (QS Ibrahim [14]: 7). Pesan ini mengajarkan bahwa nikmat tidak semestinya hanya dinikmati, tetapi juga disadari dan disikapi secara bertanggung jawab.

Dalam konteks lingkungan, kesyukuran harus kita hidupkan, bukan menjadi syukur yang mati tanpa gerakan. Bagaimana mungkin kita mengaku bersyukur atas kesuburan tanah, tetapi membiarkannya rusak akibat eksploitasi yang berlebihan? Bagaimana mungkin kita memuji kekayaan air, tetapi membuang sampah dan limbah ke sungai? Bagaimana mungkin kita bangga dengan hutan tropis, tetapi tidak peduli ketika pepohonannya ditebang tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan?

Syukur yang sejati harus tampak dalam perilaku. Menjaga kebersihan sungai, menanam dan merawat pohon, menghemat penggunaan air, mengurangi sampah, serta menolak tindakan yang merusak lingkungan adalah bentuk kesyukuran yang konkret. Bahkan, memilih untuk tidak membuang sampah sembarangan merupakan tindakan sederhana yang menunjukkan bahwa kita menghargai nikmat Tuhan.

Di sinilah kesyukuran menemukan maknanya yang lebih dalam. Alam bukan sekadar pemandangan yang menyenangkan mata atau sumber daya yang dapat dimanfaatkan sesuka hati. 

Alam adalah ruang kehidupan yang menopang manusia, makhluk lain, dan keberlangsungan generasi mendatang. Merusaknya berarti mengganggu keseimbangan kehidupan yang menjadi tempat kita bergantung.

Mencintai Indonesia tidak cukup dengan mengibarkan bendera, menyanyikan lagu kebangsaan, atau mengucapkan kebanggaan atas kekayaan alamnya. Cinta kepada tanah air juga harus diwujudkan dengan menjaga tanah, air, udara, hutan, dan seluruh ruang kehidupan yang kita warisi. Sebab, lingkungan yang sehat merupakan bagian penting dari kesejahteraan masyarakat.

Ada tiga langkah yang dapat kita lakukan sebagai wujud syukur ekologis.
Pertama, merawat yang masih baik. Hutan yang masih lestari harus dijaga, sungai yang masih bersih harus dipelihara, dan kawasan hijau yang masih tersisa harus dipertahankan. Jangan menunggu kerusakan terjadi untuk menyadari pentingnya perlindungan. Mencegah kerusakan jauh lebih bijaksana daripada memulihkan sesuatu yang sudah telanjur hilang.
Kedua, memperbaiki yang telah rusak. Sungai yang tercemar membutuhkan pemulihan, lahan kritis memerlukan penghijauan yang tepat, dan kawasan yang rusak akibat aktivitas manusia harus dipulihkan sesuai kondisi ekologisnya. Tentu, tidak semua kerusakan dapat dikembalikan seperti semula. Namun, keterbatasan itu justru menjadi alasan untuk bertindak lebih cepat, bukan untuk menyerah.
Ketiga, menyesali dan menghentikan tindakan ceroboh yang merusak bentang alam. Penyesalan tidak boleh berhenti sebagai perasaan bersalah setelah bencana terjadi. Ia harus melahirkan perubahan cara berpikir dan bertindak. 

Jika pembukaan hutan secara tidak terkendali memperbesar risiko bencana, tata kelolanya harus diperbaiki. Jika kebiasaan membuang sampah memperburuk pencemaran, kebiasaan itu harus diubah. Jika pembangunan mengabaikan daya dukung lingkungan, arah pembangunan perlu dikoreksi.
Tanggung jawab ini bukan hanya berada di pundak pemerintah atau kelompok pemerhati lingkungan. Pemerintah memang memiliki kewenangan besar dalam mengatur pemanfaatan ruang dan sumber daya alam. Pelaku usaha bertanggung jawab memastikan kegiatan ekonominya tidak mengorbankan kelestarian lingkungan. Namun, setiap warga juga memiliki peran, sesuai dengan kemampuan 
dan lingkup tanggung jawabnya. Keluarga dapat membangun kebiasaan ramah lingkungan, sekolah dan perguruan tinggi dapat menumbuhkan kesadaran ekologis, sedangkan masyarakat dapat menghidupkan kembali kearifan lokal dalam menjaga sumber air, hutan, dan ruang bersama.

Al-Qur'an telah mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan di laut muncul akibat perbuatan tangan manusia (QS ar-Rum [30]: 41). Ayat ini mengajak kita melakukan introspeksi. Kerusakan lingkungan tidak selalu hadir dalam bentuk bencana besar yang terlihat di layar televisi. Ia bisa bermula dari keputusan yang mengabaikan keseimbangan alam, keserakahan yang mengalahkan kepentingan bersama, atau pembiaran terhadap kebiasaan buruk yang berlangsung terus-menerus.
Karena itu, menjaga lingkungan sesungguhnya bukan sekadar urusan teknis, melainkan juga persoalan moral dan spiritual. Kesadaran kepada Tuhan semestinya membuat manusia semakin berhati-hati memperlakukan ciptaan-Nya. Rasa syukur seharusnya membatasi keserakahan, sementara iman semestinya menguatkan tanggung jawab untuk tidak mewariskan kerusakan kepada generasi berikutnya.

Kita patut bersyukur hidup di negeri yang dianugerahi kekayaan alam luar biasa. Namun, kesyukuran itu jangan sampai membuat kita terlena, seolah-olah seluruh kekayaan tersebut akan tersedia selamanya. Hutan dapat menyusut, sungai dapat tercemar, tanah dapat kehilangan kesuburannya, dan keanekaragaman hayati dapat menghilang. Anugerah alam bukan jaminan bahwa semuanya akan tetap baik tanpa usaha manusia untuk menjaganya.

Maka, mari kita ubah cara memandang Indonesia. Jangan hanya melihatnya sebagai negeri yang indah untuk dikagumi, tetapi juga sebagai amanah yang harus dipelihara. Jangan hanya menikmati kesejukan pepohonan, tetapi ikut menjaga agar pohon-pohon tetap tumbuh. Jangan hanya merasakan manfaat air, tetapi memastikan sumber-sumbernya tetap bersih. Jangan hanya bangga dengan kesuburan tanah, tetapi menggunakannya secara bijaksana.

Pada akhirnya, mensyukuri Indonesia adalah menyatukan rasa terima kasih kepada Tuhan dengan tanggung jawab terhadap alam. Syukur tidak berhenti pada ucapan alhamdulillah, tetapi berlanjut menjadi tindakan yang menjaga kehidupan. Merawat yang masih baik, memperbaiki yang rusak, dan menghentikan tindakan yang merusak adalah wujud kesyukuran yang nyata.

Indonesia yang kita syukuri harus menjadi Indonesia yang kita rawat. Sebab, mencintai anugerah Tuhan berarti menjaga agar anugerah itu tetap memberi kehidupan, bukan hanya bagi kita hari ini, melainkan juga bagi anak cucu yang kelak mewarisi negeri ini.*****

KALI DIBACA