
Banjarmasin, Warta Global Kalsel — Mempelajari teknologi tidak harus berhenti pada teori di ruang kelas. Di tangan mahasiswa yang kreatif, ilmu yang dipelajari justru bisa diwujudkan menjadi sebuah karya nyata. Hal itulah yang ditunjukkan mahasiswa STMIK Indonesia Banjarmasin melalui tugas mata kuliah Mata kuliah microkontroler

Ketua STMIK Indonesia Banjarmasin, Seradi Angkasa, SE, M.Kom, yang mengampu mata kuliah tersebut, mengungkapkan bahwa mahasiswa dalam satu kelas diberikan tugas untuk merakit robot mobil dengan memanfaatkan teknologi dan aplikasi Ardoino.
Menariknya, tugas yang diperkirakan membutuhkan waktu pengerjaan lebih panjang itu ternyata dapat diselesaikan mahasiswa dalam waktu sekitar dua pekan.
"Mahasiswa dalam satu kelas saya beri tugas merakit robot. Ternyata berhasil," ungkap Seradi, Selasa (20/10/2026).
Robot mobil tersebut dirancang agar bisa berjalan serta bergerak ke kiri dan kanan melalui sistem kendali yang diprogram. Proses pembuatannya menjadi bagian dari pembelajaran praktik, sehingga mahasiswa dapat memahami secara langsung bagaimana teknologi yang mereka pelajari diterapkan dalam sebuah perangkat.
Menurut Seradi, mata kuliah Mikrokontroler sebenarnya sudah lama menjadi bagian dari kegiatan akademik di kampus tersebut. Namun, pada semester ini, ia mendapat kesempatan untuk mengajar mata kuliah itu dan memberikan tugas praktik kepada mahasiswa.
Dari tugas tersebut, mahasiswa tidak hanya dituntut memahami materi perkuliahan, tetapi juga mengembangkan kemampuan merakit perangkat, menerapkan pemrograman, dan menguji hasil pekerjaan mereka.
Pembuatan robot mobil bukan satu-satunya bentuk kreativitas mahasiswa dalam pembelajaran teknologi. Seradi menyebutkan, sebelumnya juga terdapat mahasiswa yang membuat perangkat lain, salah satunya tempat sampah otomatis.
Perangkat tersebut dirancang agar tutup tempat sampah dapat terbuka secara otomatis. Karya seperti ini memperlihatkan bagaimana pengetahuan tentang teknologi dan sistem kendali dapat diterapkan untuk menciptakan perangkat yang membantu aktivitas sehari-hari.
Bagi mahasiswa, pengalaman membuat perangkat secara langsung menjadi kesempatan untuk mengasah kreativitas sekaligus membangun kepercayaan diri dalam mengembangkan teknologi.
Seradi membuka peluang agar hasil karya mahasiswa dapat ditampilkan dalam kegiatan pameran apabila ada kesempatan. Mahasiswa juga berpeluang diikutsertakan dalam berbagai perlombaan yang sesuai dengan bidang teknologi dan robotika.
"Kemudian, kalau ada pameran, mungkin hasil karya mereka bisa ditampilkan. Kalau ada lomba, kami ikut sertakan," ujarnya.
Di sisi lain, Seradi menjelaskan bahwa kegiatan perkuliahan di STMIK Indonesia Banjarmasin tetap berlangsung meskipun kondisi kabut asap sempat menjadi perhatian.
Menurutnya, kondisi kabut di Banjarmasin saat itu tidak terlalu parah dibandingkan sejumlah wilayah di luar kota, sehingga aktivitas akademik tetap dapat dilaksanakan.
Sementara itu, terkait penerimaan mahasiswa baru, Seradi menyebutkan bahwa jumlah mahasiswa yang diterima pada tahun ini relatif stabil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kegiatan akademik kampus tetap berjalan sebagaimana mestinya, termasuk melalui pembelajaran yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menghasilkan karya.
Melalui praktik pembuatan robot dan perangkat otomatis lainnya, STMIK Indonesia Banjarmasin berupaya menghadirkan pengalaman belajar yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi juga penerapan ilmu pengetahuan.
Sebab, di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, kemampuan memahami sekaligus menciptakan teknologi menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk menghadapi tantangan di masa mendatang.*****juna
KALI DIBACA

